Furu’

Oleh: Ust. Muslim, S.Pd.I (Guru Pembina Dayah Modern Darul ‘Ulum)

(15/05/2020) – Dimakruhkan ( sebagai makruh tahrim): 1.melakukan shalat yang tidak punya sebab. Seperti sunat mutlak (tidak ada sebab sama sekali artinya tidak punya sebab yang terdahulu , tidak punya sebab yang terakhir dan tidak punya sebab yg menyertai). Maksud mutlak adalah tidak dikaidkan dgn waktu. Termasuk sunat mutlak adalah shalat sunat tasbih.

  1. Shalat sunat punya sebab yg terakhir . Seperti shalat sunat dua rakaat istikharah atau shalat sunat dua rakaat ihram.
    Makruh (secara makruh tahrim) itu pada 3 waktu secara mujmal yaitu;
  2. Setelah melaksanakan shalat subuh hingga matahari meninggi kadar tombak.
  3. Setelah shalat ashar hingga terbenam matahari.
  4. Ketika matahari (istiwa’) artinya disaat matahari berada digaris khatulistiwa kecuali hari Jumat.

Tidak makruh shalat sunat pd waktu tersebut diatas adalah shalat sunat yg punya sebab yg terdahulu. Seperti shalat sunat dua rakaat wudhu,shalat sunat dua rakaat setelah tawaf, dua rakaat tahiyat masjid, dua rakaat shalat sunat gerhana, shalat janazah(jenazah ghaib dan shalat tinggal ( baik salat fardhu atau shalat sunat) yg tidak direncanakan mengakhirkannya utk dilakukan pd waktu makruh tahrim tersebut atau menetapkan terus menerus melakukan pd waktu itu.

Maka apabila sengaja menyisakan shalat yg bukan sahib waktu utk dikerjakan pd waktu makruh mk haram hukumnya secara mutlak. Serta tidak terakad. Walaupun shalat itu shalat tinggal yg wajib segera qadha seperti shalat fardhu ditinggal bukan krn ozor. Alasan menjadi haram krn menyalahi syariat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *