Sore Terakhir Bersama Paman

Penulis: Jazil Mubarak (Santri Kelas IV Dayah Modern Darul Ulum)

Teruntuk para penguasa, orang tua, guru, anak negeri,

Dan mereka yang berakal sehat

Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan karena ibu memasak mie jamur, makanan kesukaanku. Dari jauh saja aroma sedapnya sudah menembus kepala siapa saja yang menciumnya dan membuat mereka tergiur untuk mencicipinya. Sore itu tepat sesudah ashar, Ibu memanggilku dan berkata” Ahmad, antarkan mie ini kepada Paman Lem. Bilang tu untuk kembaliin mangkuknya”.”alah, ibu ni, entah apa bagi bagi ke tetangga padahal Cuma sedikit pun mienya” protesku. Mendengar itu ibu langsung mengambil kuda-kuda ala emak-emak, dengan kedua tangan di pinggang dan tatapan tajam kearahku “ meutuah na aneuk! Kita hidup bertetangga itu harus saling berbagi, sama sama susah, sama sama senang. Antarin sana! atau nggak usah makan sekaian!”bantah ibu. Jika ibu sudah dalam kuda-kuda seperti itu tidak ada lagi yang bisa dibantah,  jika aku terus membantah, ibu bisa naik ke kuda-kuda tingkat dua yang lebih mengerikan, bahkan tentara jepang pun akan gagal mendarat jika zaman dulu semua ibu-ibu seperti ibuku. Tentang berbagi, aku pun menyadari, memang sudah menjadi adat orang aceh untuk saling berbagi termasuk makanan. Hari ini ibu memasak, ibu akan membagikannya kepada tetangga. Esok tetangga yang memasak, tetangga akan membagikan masakannya untuk ibu. tidak hanya makanan, tapi juga berbagi tenaga bahkan uang bila perlu. Aku langsung mengambil mie yang telah disalin ibu kedalam mangkuk putih dan diletakkannya diatas meja dan langsung menuju rumah paman Lem.

            Aku pun sampai dihalaman rumah Paman Lem . Paman Lem adalah seorang guru di SMA Negeri tapi aku tidak pernah tahu dia guru apa. Karena menurutku paman bisa melakukan apa saja, jadi bagiku dia adalah guru segala pelajaran. Ia sudah berpuluh tahun menjadi guru umurnya sekitar 50 tahun. Nama aslinya adalah Imam Muslim dipanggil orang kampung si-Lem karena sudah menjadi tabiat orang Aceh memanggil lafaz nama orang seenak lidahnya, jadi Muslim dipanggilnya si-Lem, Rusydi dipanggilnya Sedi, Razzak dipanggilnya Radak, Saiful dipanggilnya Pon, Junaidi dipanggilnya Juned, Sulaiman dipanggilnya Leman, parahnya lagi, seiring perkembangan zaman, Sulaiman dipanggilnya Sule.

Sayangnya, diusianya yang sudah tua, Paman Lem tinggal seorang diri di rumah itu. Anak semata wayangnya kini sedang kuliah diluar negeri, sementara istrinya sudah lama meninggal karena sakit keras. Sebenarnya istrinya bisa saja sembuh bila dioperasi namun biayanya yang mahal tidak mungkin dapat dipenuhi oleh seorang guru sekolah negeri biasa. Pada awalnya aku hanya sering mengantar makanan pada Paman, karena paman Lem tinggal seorang diri aku jadi sering berkunjung untuk menemaninya. Paman Lem adalah pendengar yang baik jika aku bercerita, kadang paman yang bercerita tentang perjalanan hidupnya, mulai dari kejamnya masa DOM Aceh dulu yang membuat semua anak zaman sekarang akan bersujud penuh syukur sepanjang waktu, cerita bagaimana pertama ia menjadi guru, perjalanan masa mudanya keliiling Aceh,  hingga usahanya memburu seekor tikus elit yang selalu lolos dari perangkap yang dipasang paman. Paman adalah orang yang sangat sabar, tenang dan begitu humoris. Sebagai seorang guru paman memiliki banyak buku dilemarinya. Jadi aku sering meminjam bukunya, bercerita lagi dan tertawa bersama. Tapi hari itu suasana rumah tempat kami tertawa itu tampak aneh, bunga yang biasa berbau semerbak nan wangi dan segar kini seakan-akan tampak layu.

Aku sudah berada di depan pintu rumah paman. Kulihat lampu rumahnya mati, hanya cahaya matahari menembus tirai memberi cahaya ruangan gelap itu seadanya.  Aku meyadari ada yang hilang diruangan itu, ternyata semua sudah dibersihkan dan dirapikan paman. Taplak meja, vas bunga, dan perabotan lainnya banyak sudah tidak ada. Karena keadaan yang aneh perasaanku tidak enak, aku pun memanggil paman “paman…..paman…..ada makanan ni dari ibu. kalo nggak mau ya udah aku bawa pulang lagi aja”. tiba tiba paman langsung muncul dari kamar belakang dan berteriak “eh, ka preh ile, enak aja main main bawa pulang, duduk aja dulu didepan”.  Dalam benakku terlintas, memang benar orang Aceh bila bicara makanan, baik yang muda maupun tua tidak ada bedanya. Tidak lama kemudian paman keluar. Pakaiannya sangat rapi, kemeja abu abu berlengan panjang yang dimasukkan kedalam celana kain hitam yang di ikat kuat dengan tali pinggang coklat. ”paman mau pulang kampung?” tanyaku penasaran,”nggak ah, mau nampak muda aja sekali sekali”jawabnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan tentang keanehan yang terjadi, tapi entah mengapa aku mengurung niat itu.”ibu masak mie ni, tapi mangkuknya harus dikembalikan terus” tambahku “buno pakon hana ka peugah? Ya udah kita makan terus sekarang, bentar ambil sendok dulu” jawabnya.

Tidak lama paman keluar lagi membawa sendok dan sesuatu seperti buku. “apa ni paman?” tanyaku.”lihatlah sendiri” jawabnya sambil memberikan buku yang berdebu itu padaku. Ternyata itu bukan buku, tapi album foto milik paman. Dengan penuh rasa ingin tahu, kubuka album itu. Dihalaman pertama kudapati foto berskala hitam putih sekelompok anak anak SMA, kuperhatikan dengan teliti “ah, ni pasti paman ni yang kurus tinggi dibelakang!” kataku “hhahhahahh, cepat kali kamu dapatnya, masih ganteng sampai sekarang kan?” balasnya dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya penuh dengan mie. Setelah kami makan mie bersama, aku memperlihatkan sebuah  brosur pendaftaran SMP kepada paman. Paman bilang sekolah itu sangat bagus. Lalu aku bertanya “paman, kenapa sih di brosur pendaftaran sekolah itu ada foto anak anak pegang piala sambil pasang senyum menyeringai gitu? Kan Cuma daftar sekolah”,”hahah, apa an sih kamu ni kan cuman orang pegang piala aja, nanti kalo udah besar paham sendiri” jawabnya “alah paman kalo tunggu besar kelamaan, cerita lah sedikit” bantahku. Paman juga menyesal memilih mengatakan “jika sudah besar tahu sendiri” kepada anak anak sepertiku, akhirnya dia menjawab “sst, jangan ribut ribut! ini rahasia negara 01, kamu perlu tahu, pendidikan kita sudah kehilangan jiwa dan tujuannya yang hakiki. Sekarang lembaga pendidikan berlomba lomba memasang foto dan memamerkan kehebatan sekolahnya, sehingga peserta didik baru menjadi tertarik, bahkan tidak jarang sekolah memasang foto anak sekolah lain supaya nampak sekolahnya hebat. Pada akhirnya dari lembaga pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa malah menjadi memperbisnis kehidupan bangsa. Apalagi sekolah swasta, nampak dengan jelas!….”,”swasta itu apa sih paman?” potongku “aduh, tu kan udah dibilang tunggu besar nanti ngerti sendiri” jawabnya. Aku hanya diam, berarti memang harus tunggu besar pikirku.

Aku terus membuka album itu, lalu paman mulai bercerita lagi “tau nggak? Jaman kami sekolah dulu, gurunya galak galak kayak ibumu. Sekali salah langsung dicubit, apalagi rotan udah langganan. Yang kerennya meskipun dicubit sampai berbekas, kami tidak berani memberitahukan orang tua. Kalo orang tua kami dulu tahu, dihajar lagi kami dirumah oleh orang tua, katanya anak tidak beradab sama guru. Tapi hebatnya lagi, meskipun nakal hubungan kami dan para guru sangat baik dan berkat itu semua kami jadi orang yang berhasil semuanya….” paman terus bercerita dan aku membuka halaman album itu satu persatu. Tanpa kusadari paman mengeluarkan pulpen dan menuliskan sesuatu di brosur itu. Aku asyik membuka album kudapati foto paman ketika pertama kali menjadi guru. Kemudian kubuka lagi, tiba tiba kau terkejut disuatu halaman tertulis ketika dunia sudah berubah aku penasaran langsung kubuka halaman berikutnya, ternyata itu adalah foto paman disekolah selama 5 tahun terakhir, senyumannya sebagai guru sudah tidak secerah dulu. “…..hah dunia sudah berubah ya?” tanyanya pada dirinya sendiri. Lalu ia melihatku dan berkata “ Mad, asal kau tahu jamanmu sekarang sudah tidak sama seperti dulu. Kami dulu, lagi belajar harus tiarap, karena konflik. Tapi dijamanmu ini semua berjalan dengan tenang tanpa perlu takut apapun. Hidup yang dulunya keras kini malah lembut. Tapi anehnya pendidikan pun jadi lembut. Guru sekarang tidak bisa lagi memukul muridnya yang melakukan kesalahan seperti kami dipukul dulu. Sehingga anak negeri ini semakin kehilangan sopan santun, dan semakin menjadi jadi dalam kesalahan. Tidak sedikit murid yang mengejek dan menghina gurunya. Dan kami para guru tidak bisa berbuat apa apa. Beberapa minggu lalu pak Zaid, seorang guru matematika di SMA kampung sebelah ditangkap kepolisian karena memukul muridnya yang memberontak untuk membuat pr dan berteriak teriak didalam kelas sehingga mengganggu konsentrasi belajar. Itulah Mad yang terjadi diantara kita saat ini”,”kok bisa paman?”tanyaku heran.”ya paman juga bingung sendiri. Semenjak pemerintah mengeluarkan peraturan Hak Asasi Manusia, kami dilarang untuk memukul murid. Bahkan orangtua dilarang memukul anaknya sendiri. Sejak itu pula orang tua melapor kepada polisi jika anaknya dipukul. Padahal orang tua itu seangkatan dengan paman, seharusnya mereka tahu apa manfaat pemukulan itu. Kasihan pak Zaid, dia dijatuhkan hukuman penjara 5 tahun karena upaya baiknya dalam membangun negeri”jelas paman.”masa sih paman?” bantahku tidak percaya” kemarin aku nguping ayah yang lagi marah marah sendiri katanya koruptor aja dipenjara 4 tahun, diruangan vip lagi” tambahku “ya itulah masalahnya, nanti kalo kamu udah besar ngerti sendiri”jawab paman. Aduh, nunggu lagi nih pikirku.

“beberapa hari yang lalu, seorang guru biologi mencubit seorang murid sampai merah karena anak itu berbicara bahasa kotor dan tidak senonoh. Guru itu sudah tidak sanggup bersabar lagi atas kelakuan anak itu, terlebih lagi sudah seiring diingatkan, tapi anak itu hanya acuh tak acuh. Ia pun mencubitnya. Dan kejadiannya sama seperti Pak Zaid. Ia akan dibawa ke kantor polisi hari ini. Apakah yang dilakukannya salah?” tanya paman padaku. Paman adalah orang yang jarang marah, melihat orang marah saja ia tidak senang. Jika ia sudah setuju seseorang marah, berarti kemarahan itu sangat diperlukan. “jelas tidaklah paman, kan anak itu yang salah” jawabku. “begitulah Mad, kau belajarlah yang rajin, supaya nanti kalau kau sudah besar jadi orang besar kau tegakkan kebenaran yang telah banyak diselewengkan ini, paman kan sudah tua, nggak sanggup lagi.”kata paman “oke, paman” jawabku penuh semangat.

Beberapa saat kemudian sebuah mobil berwarna hitam berlalu dan berhenti tepat didepan rumah paman. Aku hanya bertanya tanya pada diriku, siapa mereka. Sedangkan paman sudah bangun dan mengampiri mobil itu, sedangkan brosur SMPku masih ditangan paman. Sudah menjadi kebiasaan paman bila ada tamu yang datang baik ia kenal maupun tidak, paman akan berusaha menghampiri mereka sebelum mereka turun dari kendaraannya. Lalu keluarlah 2 orang berwajah sangar, mengenakan kacamata hitam seperti Terminator, jaket kulit hitam, tubuhnya tinggi besar dan gagah. Mereka berbicara sebentar, dan aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak yang terlalu jauh dan perasaanku semakin tidak enak. Tidak lama kemudian paman kembali lagi. Ia menutup pintu, menghampiriku yang masuk duduk diatas kursi dan berpesan “paman mau pergi sebentar, nanti kalau paman tidak pulang tolong siramin bunganya ya, biar nggak layu!”entah mengapa tiba tiba aku memeluk paman. Air mataku mengalir deras, seakan akan itulah hari terakhir aku melihat paman, paman yang melihatku menangis lalu berkata “eh apa nangis ni, udah besar, paman ni mau pergi sebentar aja, bukannya mau meninggal” aku tidak menjawab apa apa sambil mencoba menenangkan napasku yang masih belum teratur dan tanganku menyeka menghapus air mata yang membasahi wajah. Aku ikut menemani paman sampai ke mobil. Salah seorang lelaki itu sudah masuk kedalam mobil, sedangkan yang satunya memegang pintu menunggu paman masuk. Sebelum masuk masuk kedalam mobil, paman berbalik, menghapus air mataku dan memelukku lalu berkata “udah tenang aja, nanti kita jumpa lagi, belajar yang rajin jangan malas malas, o ya ni brosur SMPnya hampir terbawa”aku pun mengambil brosur itu dari tangan paman “oh ya bilang sama ibumu, mie jamurnya enak kali, chit hana lawan” kemudian paman memandang rumahya, beberapa rumah tetangga lalu, lalu sambil tersenyum kearahku paman masuk kedalam mobil. Si lelaki satunya ikut masuk, duduk disamping paman dan menutup pintu mobil. Sejurus kemudian mobil itu sudah berlalu, aku terus memandangi mobil itu menuju matahari yang mulai tenggelam sampai mobil itu benar benar hilang dari pandangan dan air mataku terus mengalir lembut tanpa suara.kuhapus air mataku, kulihat lagi brosur yang ada ditanganku, ternyata paman menuliskan sesuatu disana “akulah guru biologi itu”.

2 thoughts on “Sore Terakhir Bersama Paman

  1. cerpennya sangat bagus dan menginspirasi.. tata bahasa juga sudah mulai setingkat sama para penulis pro di buku” terkenal lainnya. Terus berkarya ya, semoga kedepannya bisa di buat menjadi buku beneran 👍🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *